Meniti Jalan Para Ulama - Blog Pribadi Muhammad Abduh Negara

Fikrah

Beramal Sesuai dengan Ilmu yang Sampai Kepadanya

Oleh: Muhammad Abduh Negara

Salah satu prinsip penting yang perlu dipahami adalah, “Seseorang beramal sesuai dengan ilmu yang sampai kepadanya”. Contoh, jika seseorang mendapatkan penjelasan dari gurunya, bahwa sebelum makan itu cukup baca بسم الله saja, tidak ditambah الرحمن الرحيم maupun doa-doa lainnya, maka silakan dia amalkan itu, dan hal itu tidak tercela.

Dengan ilmu yang sampai kepadanya tersebut, bolehkah dia berbagi faidah dengan menuliskannya di media sosial atau semisalnya?

Nah, hal ini perlu memperhatikan beberapa hal:

1. Pada dasarnya, sah-sah saja menuliskannya di media sosial, dengan tujuan untuk mengikat ilmu dengan menulisnya, serta berbagi dengan teman-temannya. Hanya saja, dia harus menuliskannya dengan ungkapan penuh rendah hati, dan kesadaran penuh bahwa dia sebenarnya masih kurang ilmu.

Jadi, dia tidak boleh menggunakan redaksi menggurui, menyindir pihak lain yang mengamalkan hal yang berbeda, apalagi memaksa orang lain untuk mengikuti pilihan pendapat yang dia ikuti.

Ingat, dia itu baru tahu satu sudut pandang pada tema itu, jadi jangan bersikap seakan dia telah menguasai tema itu sepenuhnya.

2. Dia perlu memperhatikan siapa yang berpotensi besar membaca tulisannya tersebut. Jika yang membacanya adalah teman-teman sepengajiannya, yang sama-sama baru belajar, dan semua memahami bahwa ditulisnya faidah itu sekadar untuk mengikat ilmu dan berbagi faidah ke sesama teman pengajian, maka tentu tidak masalah.

Namun jika pembacanya itu dari berbagai kalangan berbeda, dari berbagai madzhab dan afiliasi berbeda, maka dia perlu hati-hati, karena sangat mungkin tulisannya itu akan jadi bahan debat kusir dan permusuhan sesama muslim.

Mengapa debat kusir? Karena, si penulis faidah, dan si pembaca yang marah dengan tulisan tersebut, bisa jadi sama-sama minim ilmu. Kalau minim ilmu, tentu tidak layak berdebat ilmiah, dan jika mereka berdebat, tentu jadinya debat kusir yang tidak bermanfaat, dan malah melahirkan permusuhan.

3. Jika tetap mau berbagi faidah, dia harus membuka dirinya untuk menerima faidah baru dari pembacanya, misalnya.

Contoh untuk faidah basmalah di atas, dia harus siap menerima jika ada yang menanggapi bahwa mengucapkan basmalah secara lengkap (termasuk الرحمن الرحيم) dan doa sebelum makan, itu tidak masalah, dan malah berpahala.

Jika pun dia belum bisa menerimanya, karena berbeda dengan penjelasan gurunya, dia tidak boleh mengesankan bahwa si komentator itu pembawa syubhat, ahli bid’ah dan semisalnya. Ingat: Tidak semua hal yang berbeda dengan penjelasan guru anda, berarti itu syubhat dan bid’ah. Sangat mungkin, pendapat yang lebih dekat dengan kebenaran, adalah pendapat yang berbeda dengan yang dijelaskan oleh guru anda. Karena itu, tetaplah rendah hati.

Leave a Reply