Meniti Jalan Para Ulama - Blog Pribadi Muhammad Abduh Negara

Fikrah

Umat Islam Indonesia Memerlukan Banyak Alim Peneliti

Oleh: Muhammad Abduh Negara

Umat Islam Indonesia memerlukan banyak alim peneliti, yang kerja ilmiahnya fokus pada mengajar, meneliti, menulis dan mengeluarkan produk berupa fatwa, kajian komprehensif, ijtihad jama’i dan semisalnya.

Sayangnya, yang melakukan hal semacam ini masih sangat sedikit. Yang kerja sebagai dosen, tersibukkan dengan hal-hal yang sifatnya administratif, termasuk mungkin mengejar target akreditasi dan peringkat kampus. Belum lagi soal kesejahteraan yang kurang dan dana penelitian yang minim.

Ada juga yang sibuk mengelola pesantren, yang pada dasarnya bagus, namun itu sedikit banyak mengalihkan dari dunia keilmuan dan tersibukkan dengan aspek pengasuhan. Ini belum lagi soal sebagian kiyai pengasuh ternyata sibuk ceramah di mana-mana, sibuk bisnis, sibuk melancong dan sibuk dalam dunia politik.

Sebagian lagi, disibukkan dengan jadwal ceramah yang padat merayap, yang harus diakui “amplop”-nya jauh lebih besar dari gaji guru pesantren atau dosen di kampus. Sayangnya, kebanyakannya kajian tematik yang itu-itu saja. Tidak ada kedalaman materi yang mengharuskan penelaahan komprehensif. Tidak ada kajian sistematis membahas satu cabang ilmu dari A sampai Z.

Sebagian lagi sibuk dengan bisnis, dengan argumen “seorang ustadz tidak boleh makan dari jual agama”. Argumen yang sangat lemah sebenarnya, dan saya sudah berulang kali memberikan bantahannya. Kesibukannya dalam beragam bisnis ini, membuatnya jauh dari dunia keilmuan. Ilmu yang dia dapatkan, terhenti dengan selesainya dia kuliah di kampus. Bahkan ilmunya yang lama pun, sudah lama tidak dimurajaah.

Dan fokus pada kerja ilmiah semacam ini, perlu support dana yang cukup, yang sayangnya negeri ini masih sangat bermasalah dalam hal ini. UMP dan UMK rendah, dan bahkan banyak yang belum mencapainya. Kepedulian pemerintah terhadap dunia penelitian ilmiah masih kurang, baik di bidang ilmu umum maupun ilmu agama. Dan umat secara umum, juga tak peduli. Mereka rela menyediakan amplop puluhan juta bagi penceramah yang hanya bisa ngomong “goblok” untuk sekali ceramah, tapi tidak tertarik urunan membiayai penelitian seorang alim.

Dan seterusnya.

Leave a Reply