Meniti Jalan Para Ulama - Blog Pribadi Muhammad Abduh Negara

Fikrah

Tidak Berbicara pada Bidang yang Tidak Dikuasai

Oleh: Muhammad Abduh Negara

Salah satu prinsip penting yang selayaknya dipegang oleh para penuntut ilmu, bahkan oleh para ulama, adalah tidak berbicara di bidang yang tidak dikuasai dengan baik.

Sebagaimana maklum, setiap lulusan S3 mendapatkan gelar doktor, tanpa penjelasan spesifikasi khusus bidang studi yang dikaji. Dalam bidang studi berkaitan ilmu syar’i saja, lulusan aqidah, fiqih, nahwu, ushul fiqih, hadits, tafsir, dakwah, PAI, manajemen pendidikan, dll., semua mendapatkan gelar yang sama, padahal kualifikasi keilmuannya berbeda.

Demikian pula, gelar itu didapatkan melalui proses kuliah, penulisan disertasi dan sidang untuk menguji hasil disertasi tersebut. Siapapun yang berhasil menempuh proses ini, akan mendapatkan gelar tersebut. Dan gelar ini tidak bisa sepenuhnya menunjukkan tingkat penguasaan seseorang dalam bidang studi yang dia pelajari. Sama-sama doktor hadits, belum tentu sama dan selevel penguasaannya dalam ilmu hadits. Dan seterusnya.

Sayangnya, di tempat kita, kadang setiap ustadz yang bergelar doktor, dianggap qualified untuk berfatwa dan berbicara masalah agama serumit apapun, tanpa memperhatikan bidang studi yang mereka geluti, kedalaman ilmu mereka di bidang itu, dan seterusnya.

Namun masalah ini, bukan hanya untuk gelar formal. Gelar non-formal pun kadang sama saja. Gelar yang diberikan masyarakat, seperti “ustadz”, “kiyai”, dan “syaikh”, tidak selalu menunjukkan kualifikasi dalam ilmu syar’i, karena memang sejak awal tidak punya standar ilmiah yang jelas.

Bahkan, gelar non-formal yang dianggap lebih prestisius pun, saat ini kadang diobral begitu saja. Saya pernah membaca, ada seorang ustadz yang menyebut guru riwayatnya yang masih berusia muda, dengan sebutan Asy-Syaikh Al-Musnid Al-Muhaddits Al-Faqih Al-Ushuli bla bla bla, hanya karena sang guru punya sanad kitab dalam cabang-cabang ilmu tersebut, dan mungkin sedikit memahami bahasan dalam bidang ilmu tersebut.

Akhirnya, masing-masing diri kita yang harus punya kontrol, harus punya kesadaran diri, harus punya sikap tahu diri. Jangan sampai karena dipuji setinggi langit oleh kalangan awam dan rekan seiring yang suka menjilat, kita merasa diri kita sudah mencapai puncak langit ilmu.

Jika kita memaksakan diri berbicara di luar bidang yang kita kuasai dengan baik, maka hal-hal yang aneh nan syadz, yang akan keluar dari mulut dan pena kita.

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata:

إذا تكلم المرء في غير فنه، أتى بالعجائب

Artinya: “Jika seseorang berbicara di luar bidang ilmu yang dia kuasai, akan keluar dari mulutnya hal-hal yang aneh.”

Leave a Reply