Meniti Jalan Para Ulama - Blog Pribadi Muhammad Abduh Negara

Ushul Fiqih

Dalam Satu Kasus Terdapat Hukun Wajib, Shahih dan Haram Sekaligus

Oleh: Muhammad Abduh Negara

Dalam Al-Waraqat karya Imam Al-Haramain, disebutkan bahwa hukum syar’i terbagi menjadi tujuh, yaitu: wajib, mandub, mubah, mahzhur (haram), makruh, shahih dan batil.

Pembagian ini menurut para ulama tidak bersifat saling menegasikan (تباين), tapi saling beririsan (تداخل). Artinya, bisa jadi pada satu kasus misalnya, di dalamnya terdapat hukum wajib, shahih dan sekaligus haram.

Misalnya pada kasus shalat zhuhur di tempat milik orang lain tanpa izin pemiliknya dengan terpenuhinya syarat dan rukun dari shalat zhuhur tersebut. Pada kasus ini, berlaku padanya hukum wajib, shahih dan haram sekaligus, dengan perincian:

1. Shalat zhuhur, hukumnya wajib.
2. Shalat dengan memenuhi syarat dan rukunnya, hukumnya sah (shahih).
3. Shalat di tempat milik orang lain tanpa izin pemiliknya, hukumnya haram.

Misal lain, ada kasus yang di dalamnya terdapat hukum mandub, shahih, makruh dan haram sekaligus, yaitu pada shalat dhuha dua rakaat yang terpenuhi syarat dan rukunnya di tempat pemandian (حمام) milik orang lain tanpa izin pemiliknya. Perinciannya:

1. Shalat dhuha dua rakaat, hukumnya mandub.
2. Shalat yang terpenuhi syarat dan rukunnya, hukumnya sah (shahih).
3. Shalat di tempat pemandian, hukumnya makruh.
4. Shalat di tempat milik orang lain tanpa izin pemiliknya, hukumnya haram.

Wallahu a’lam.

Rujukan:
1. Al-Imla ‘Ala Syarh Al-Mahalli Li Al-Waraqat, karya Dr. Amjad Rasyid, Halaman 75-76, Penerbit Dar Al-Fath, ‘Amman, Yordania.
2. Syarh Matn Al-Waraqat Li Al-Imam Al-Mahalli Wa Ma’ahu Hasyiyah Ad-Dimyathi, karya Imam Ahmad bin Muhammad Ad-Dimyathi, Halaman 41, Penerbit Muassasah Ar-Risalah, Beirut, Libanon.

Leave a Reply