Meniti Jalan Para Ulama - Blog Pribadi Muhammad Abduh Negara

Ushul Fiqih

Ilmu Muqallid Tak Bisa Disebut Sebagai Fiqih

Oleh: Muhammad Abduh Negara

Syaikhul Islam Zakariyya Al-Anshari mendefinisikan fiqih dengan:

علم بحكم شرعي عملي مكتسب من دليل تفصيلي

Artinya: “Ilmu tentang hukum syar’i ‘amali yang diperoleh dari dalil terperinci”.

Dari ungkapan “min dalil tafshili”, dipahami bahwa ilmu yang diraih oleh seorang muqallid tidak termasuk fiqih, karena ia tak didapatkan dari dalil terperinci, tapi dari fatwa seorang mujtahid.

Fatwa seorang mujtahid itu menjadi hukum Allah baginya, dan ia wajib terikat dengannya. Namun ilmu yang ia dapatkan tersebut tak bisa disebut sebagai fiqih, karena tidak langsung diambil dari dalil tafshili.

Maksud dalil tafshili (dalil terperinci) itu adalah dalil dari Al-Qur’an, As-Sunnah, dan dalil-dalil lainnya. Seorang muqallid tidak meraih ilmu langsung dari dalil-dalil ini, karena ia tak mampu mencapainya. Ilmu yang ia dapatkan berasal dari fatwa seorang mujtahid yang ia ikuti. Misal, ia mengetahui bahwa niat dalam wudhu itu wajib hukumnya dari fatwa seorang ulama, bukan langsung dari dalil dan istidlal dari dalil tersebut.

Wallahu a’lam.

Rujukan: Ghayah Al-Wushul Syarh Lubb Al-Ushul, karya Syaikhul Islam Zakariyya Al-Anshari, Halaman 11-13, Penerbit Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah, Beirut, Libanon.

Leave a Reply