Meniti Jalan Para Ulama - Blog Pribadi Muhammad Abduh Negara

Fikrah

Ilmu Syar’i itu Selalu Mulia

Oleh: Muhammad Abduh Negara

Ilmu syar’i itu fi dzatihi selalu mulia, karena ia membahas hal yang sangat mulia, yaitu syariat yang diturunkan oleh Allah ‘azza wa jalla.

Namun kemuliaan ilmu syar’i ini, di hadapan sebagian orang menjadi hilang. Mengapa hilang?

Hal ini bisa dianalogikan dengan emas dan batu. Mengapa emas begitu mahal dan berharga, sedangkan batu sangat murah dan hampir tidak berharga? Salah satu jawabannya, karena emas itu sesuatu yang langka dan sulit didapatkan, sebaliknya batu ada di mana-mana dan bisa kita dapatkan dengan mudah.

Demikian juga ilmu syar’i. Ketika semua orang merasa sudah mampu mengakses ilmu syar’i ini kapan pun mereka mau, baik via youtube, google, dll., akhirnya mereka tidak merasakan lagi keagungan ilmu ini. Ilmu syar’i, bagi mereka, tidak lagi berharga layaknya emas, tapi menjadi sesuatu yang biasa saja seperti batu.

Lalu, apakah benar ilmu syar’i sudah bisa diakses oleh siapapun? Kalau bicara wasilah, benar. Akses terhadap ilmu syar’i saat ini jauh lebih terbuka dibandingkan di masa lampau. Banyaknya pembelajaran ilmu syar’i secara online menjadi buktinya. Namun yang dilupakan banyak orang, sebagai satu ilmu, meskipun aksesnya sudah sangat terbuka, tetap saja untuk memilikinya perlu usaha keras dan waktu yang lama.

Ringkasnya, anda tidak akan menjadi alim, hanya dengan menyimak satu atau dua kajian tematik dari ustadz favorit anda, atau membaca satu atau dua artikel internet yang anda akses dengan perantara google.

Kalau ingin berilmu, anda tetap harus belajar secara sistematis, tahap demi tahap, dan itu perlu kesungguhan tinggi, semangat tanpa henti, biaya besar, dan perlu waktu yang lama. Soal offline atau online, itu hanya soal wasilah saja.

Ilmu syar’i tetap mulia. Namun kemuliaan dan keagungan ilmu ini, menjadi tidak bernilai, di mata orang-orang yang tertipu, yang mengira dirinya berilmu, mengira dirinya paham ilmu syar’i, hanya dari potongan video atau dari kepingan tulisan.

Leave a Reply