Meniti Jalan Para Ulama - Blog Pribadi Muhammad Abduh Negara

Fikrah

Kebencian dan Asumsi Tanpa Bukti Kepada Lawan Afiliasi

Oleh: Muhammad Abduh Negara

Orang yang tumbuh di lingkungan yang menganggap kebaikan dan kebenaran hanya ada di kelompok atau afiliasinya, akan sulit memberikan apresiasi pada kelompok atau afiliasi lain, serta sulit bersikap adil kepada mereka.

Yang tumbuh di komunitas aswaja asy’ari yang begitu membenci salafi wahhabi, akan sulit menerima penjelasan bahwa di kalangan salafi itu banyak juga yang alim dan menguasai berbagai cabang ilmu, mereka tahunya wahhabi itu bodoh semua dan tidak bisa baca kitab semua.

Sulit juga bagi mereka menerima fakta bahwa di kalangan salafi itu banyak syaikh yang shalih, kuat hubungannya dengan Allah ta’ala dan berakhlak baik dengan sesama. Tahunya mereka, wahhabi itu beringas, tidak memiliki ruhiyyah yang kuat, dan senang mencerca sesama.

Sebaliknya, yang tumbuh di komunitas salafi wahhabi yang begitu membenci aswaja asy’ari, sulit menerima bahwa banyak ajaran aswaja itu (baik soal keyakinan maupun ahkam) juga dilandasi oleh dalil yang kuat dan mu’tabar, mereka tahunya aswaja itu pelaku bid’ah, tidak berdalil dan taat buta dengan kiyainya.

Sulit juga bagi mereka menerima fakta, bahwa banyak kiyai aswaja itu yang begitu wara’, kuat keterikatannya terhadap syariat, dan menolak semua hal yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tahunya mereka, aswaja itu akronim dari “asli warisan jawa”, suks melanggar syariat, kuat kleniknya, dan lagi-lagi tanpa dalil.

Contoh di atas, harus dikatakan sebagai oknum, baik jumlahnya sedikit atau banyak, karena sebagai ajaran, tentu salafi dan aswaja mengajarkan bersikap adil terhadap sesama, tidak berprasangka dan menilai buruk terhadap mereka hanya karena asumsi yang belum terbukti. Tapi, karena mereka (oknum tersebut) tumbuh di lingkungan yang memandang buruk kelompok dan afiliasi lain, akhirnya sulit memberikan penilaian secara adil.

Contoh lain, bagi sebagian oknum aswaja asy’ari, tiga hal yang identik dengan salafi wahhabi adalah:

✓Tidak punya guru, atau dengan kata lain, ilmu mereka tidak bersanad
✓Hanya merujuk pada terjemahan
✓Teroris atau inspirator terorisme

Sedangkan bagi sebagian oknum salafi wahhabi, tiga hal yang identik dengan aswaja asy’ari adalah:

✓Suka klenik dan hal-hal berbau mistis dan khurafat
✓Amal dan keyakinannya tanpa dalil
✓Berpotensi kuat mengarah ke pemikiran liberal

Nah, penilaian-penilaian yang bersifat asumtif dan sering tanpa bukti yang kuat (kecuali sekadar menemukan kasus ini dan itu) seperti ini, harus dieliminasi, karena jelas tidak adil menilai satu paham atau ajaran.

Memang benar, ada sekian isu yang memang benar-benar membedakan salafi wahhabi dan aswaja asy’ari, dan terus mereka perdebatkan sejak ratusan tahun yang lalu. Dan hal semacam ini wajar saja. Perdebatan yang termaktub di kitab dan tersampaikan melalui lisan ulama, selama ia dilandasi oleh argumentasi ilmiah, dan memang sesuai dengan dhawabith dalam munazharah, itu hal yang bisa diterima.

Tapi jika kerasnya perdebatan selama ini, membuat kita menambah-nambahi berbagai asumsi yang tidak benar tentang lawan diskusi atau lawan afiliasi, dan menjadikannya sebagai tambahan senjata untuk menyerang lawan, ini jelas sudah keluar dari ranah ilmiah. Ini kecurangan, dan pasti perdebatannya tidak akan wushul ilal haq.

Karena itu, kalau kita belum bisa menghilangkan asumsi tanpa bukti di benak kita, serta belum mampu menghilangkan kebencian tanpa dasar terhadap pihak lawan, jangan coba-coba masuk ke arena debat. Karena itu pasti merusak.

Leave a Reply