Meniti Jalan Para Ulama - Blog Pribadi Muhammad Abduh Negara

Fikrah

Kesalahan Memahami Cakupan “Ummah”

Oleh: Muhammad Abduh Negara

Saya sempat terbawa arus perdebatan Pak Alma’arif Arif, karena salah satu postingan saya tentang “pentingnya berbagi tugas” dibagikan oleh Pak Roy Anwar, kemudian dikomentari negatif oleh yang bersangkutan. Akhirnya saya buat satu postingan khusus tentang Pak Alma’arif Arif ini. Setelah itu, saya tidak tahu kelanjutannya. Saya lebih senang membaca perdebatan literatur, dibandingkan perdebatan netizen yang kadang tidak jelas arahnya.

Yang saya lihat selama ini, jauh sebelum postingan saya di atas, pak Alma’arif Arif ini jadi bahan gojlokan di mana-mana, karena dia begitu konsisten mengkritisi “ilmu abad pertengahan”. Kalau dia mengaku, bahwa dia ingin memajukan umat Islam ini, agar tidak ketinggalan lagi dari Barat atau semisalnya, saya lihat ada banyak hal yang harusnya dia lakukan, namun tampak belum dilakukannya (sependek yang dia tampilkan di media sosial).

Saya pun sebenarnya punya kegelisahan yang agak mirip, namun saya mengambil sudut pandang yang berbeda dengan dia. Sebagai contoh, alih-alih menyuruh anak-anak pesantren tradisionalis untuk bergiat dalam sains dan meninggalkan “ilmu abad pertengahan”, saya malah mengarahkan, agar tidak semua putra-putri umat Islam harus belajar di pondok pesantren. Saya jelaskan, bahwa ilmu-ilmu fardhu kifayah yang dibutuhkan umat itu, bukan hanya ilmu ushul fiqih, mushthalah Hadits, nahwu, sharaf, dan semisalnya, tapi juga kimia, fisika, teknik nuklir, teknologi pertanian, dan lain-lain. Artinya, umat Islam harus berbagi tugas, setiap orang mengambil salah satu lahan fardhu kifayah ini, agar tidak ada kebutuhan umat yang terabaikan.

Saya mengkritik kecenderungan sebagian aktivis pengajian (yang kebanyakannya alumni pendidikan umum, dan baru ‘hijrah’ di usia dewasa), yang tampak seragam ingin anak-anak mereka belajar agama sedalam-dalamnya di pondok pesantren, dan nanti ujungnya menjadi “ustadz” sebagaimana ustadz-ustadz idola mereka, yang berseliweran di youtube, tv dakwah, dll. Seakan seluruh umat Islam harus jadi “ahli agama”. Persepsi ini jelas salah, dan jika benar-benar terjadi, maka peradaban umat Islam ini akan semakin jatuh terpuruk.

Namun kembali lagi, alih-alih menyuruh para ahli aqidah, ahli nahwu, atau ahli ushul fiqih, berhenti membicarakan bidang keahliannya, seperti yang tampak diulang-ulang oleh Pak Alma’arif Arif, saya malah menyatakan, ilmu-ilmu “abad pertengahan” itu tetap sangat urgen saat ini, tetap sangat diperlukan, karena itu para ahli yang bicara bidang itu, biarlah mereka tetap membincangkannya. Yang patut diingatkan kepada semua muslim adalah, tidak setiap muslim harus jadi “ahli ilmu abad pertengahan” tersebut. Harus ada yang jadi ahli teknologi pertanian, teknik rekayasa nuklir, ahli astronomi, dan lain sebagainya.

Jangan lupa juga, yang kuliah di bidang pertanian, teknik, MIPA, kedokteran, dll., itu jumlahnya sangat banyak di negeri ini. Sayangnya Pak Alma’arif Arif seperti melupakan mereka. Ini sebenarnya bisa dipahami, karena yang bersangkutan sendiri adalah alumni jurusan filsafat UIN, universitas yang bergelut di bidang studi Islam. Ini malah tampak seperti, orang yang gelisah atas sesuatu, namun kebingungan menemukan solusinya, ujungnya malah menyalahkan orang-orang di sekitarnya, yang sebenarnya tidak salah.

Kalau mau menyalahkan lemahnya sains dan teknologi kita, maka yang layak dikritik, setelah pengambil kebijakan, adalah orang-orang yang memang bergelut dalam bidang sains dan teknologi. Apa yang mereka lakukan selama ini?

Kemungkinan besar, orang-orang seperti Pak Alma’arif Arif ini dan yang semisalnya (yang seharusnya cukup banyak), salah memahami cakupan “ummah” atau “umat Islam”. Dipikirnya, umat Islam, yang dibebani tugas memikirkan kemajuan umat ini, hanyalah yang lulusan pesantren atau kampus studi Islam. Mereka lupa, mayoritas yang kuliah dan bergelut dalam bidang MIPA, teknik, kedokteran, pertanian, dan seterusnya, juga seorang muslim, juga bagian dari umat Islam. Daripada mengkritik seorang ustadz (yang memang ahli di bidangnya) yang sedang menjelaskan satu konsep aqidah yang menurutnya benar, atas mandeknya sains kita, seharusnya kritik itu diberikan pada banyak sekali doktor dan master sains lulusan luar dan dalam negeri. Apakah hanya para ustadz yang menjadi bagian umat Islam, dan selainnya bukan bagian dari umat Islam, dan tidak bertanggung jawab atas rendahnya kualitas sains dan teknologi umat?

***

Dalam salah satu kesempatan, al-‘Allamah Yusuf al-Qaradhawi رحمه الله pernah menyatakan, seandainya beliau mendapatkan kesempatan menjadi rektor Universitas Al-Azhar, beliau akan melakukan seleksi ketat dalam penerimaan mahasiswa jurusan-jurusan studi Islam, agar lulusannya nanti memang benar-benar layak menjadi ulama. Beliau menyampaikan keprihatinannya, bahwa peminat jurusan-jurusan studi Islam di Al-Azhar (mungkin yang dimaksud: mahasiswa asli Mesir, wallahu a’lam) kebanyakan berasal dari orang-orang yang tidak diterima di jurusan-jurusan favorit, seperti kedokteran, teknik, dan semisalnya. Setelah tidak diterima di sini dan di sana, akhirnya pilihan terakhir adalah mendaftar di jurusan-jurusan studi Islam. Merasa familiar dengan hal ini di negeri kita?

Dengan bibit mahasiswa yang tidak punya minat serius belajar studi Islam (karena bukan jurusan yang menjadi pilihan pertama mereka), ditambah dengan tingkat kecerdasan yang kurang (dibuktikan dengan tidak lulus di jurusan lainnya), maka sulit diharapkan mereka layak jadi ulama ahli syariah, setelah menempuh pendidikan sekian tahun di sana.

Keprihatinan al-Qaradhawi ini, menunjukkan bahwa beliau memandang penting dan urgen, lahirnya para ulama ahli ilmu syariah di tengah-tengah umat Islam, yang bisa menjadi pelita umat di tengah-tengah gelapnya kehidupan. Namun di sisi lain, dari sekian putra dan putri beliau, hanya satu yang kuliah di bidang studi Islam. Tidak seperti gambaran “tokoh agama” yang dibayangkan banyak orang, yang mewajibkan anak-anaknya jadi “ahli ilmu agama” seperti dirinya, al-Qaradhawi lebih terbuka dalam hal ini. Tentu tidak ada yang salah dengan menjadi ahli ilmu syariah, dan al-Qaradhawi pun paham hal tersebut, sebagaimana saya sudah sebutkan di atas. Namun beliau tidak menganaktirikan bidang-bidang keilmuan lainnya. Sebagaimana kebanyakan pemikir muslim yang berpikiran terbuka, beliau memandang “ilmu syar’i” dan “ilmu ghayru syar’i” sama pentingnya bagi umat Islam. Semuanya adalah ilmu-ilmu fardhu kifayah, dan umat Islam seharusnya tidak luput dari satu pun bidang tersebut. Dan cara yang paling logis adalah, bagi-bagi tugas, sebagaimana yang sering saya ulang-ulang, dan ditolak oleh orang-orang semisal Pak Alma’arif Arif dan yang satu pandangan dengannya.

Umat Islam perlu para ahli fiqih, yang bukan sekadar tukang nukil kitab-kitab fiqih klasik, tapi yang memang mampu berfatwa dengan kajian mendalam terhadap dalil dan waqi’, mampu beristidlal dengan nash sesuai kaidah-kaidah ilmiah, sekaligus memperhatikan maqashid syari’ah dan pertimbangan maslahah-mafsadah. Umat Islam juga perlu para ahli teknologi pertanian, yang bisa memberikan kita produk pertanian yang unggul, lebih sehat, dan bisa dipanen dalam waktu yang lebih cepat dan efisien, sehingga kita tidak perlu lagi tergantung pada hasil pertanian negara-negara lain. Umat Islam juga perlu ahli nahwu, ahli aqidah, ahli Hadits, ahli tafsir, dan berbagai bidang studi ilmu syar’i lainnya, sebagaimana umat Islam juga perlu ahli fisika, ahli kedokteran, ahli rekayasa nuklir, dan berbagai ilmu yang memberikan kemaslahatan bagi umat Islam dan umat manusia secara keseluruhan.

Tidak perlu ada dikotomi. Tidak perlu ada yang dianak tirikan. Dan tidak perlu ada yang “diserang” karena bergelut di bidang keahliannya. Kalau pun ada yang perlu dikritik tajam adalah, orang-orang yang bicara dan bertindak di luar bidang keahliannya. Misalnya, sarjana pertanian yang berfatwa soal hukum, padahal ushul fiqih tidak pernah belajar, kaidah-kaidah fatwa tidak paham sama sekali. Misal lagi, ahli bahasa Arab yang mengutip kitab-kitab fiqih madzhab secara serampangan, demi mendukung pendapatnya, padahal kutipannya salah total dan cenderung khianat. Atau, ahli filsafat yang tidak mampu berpikir mendalam, dan sibuk menyalahkan hal-hal yang tidak salah. Atau, ahli ruqyah yang cosplay jadi dokter spesialis jantung. Dan berbagai contoh lainnya. Kritik diberikan pada orang-orang yang bicara dan bertindak, di luar bidang keahliannya.

Kembali lagi, setiap kita perlu memahami, bahwa umat Islam itu cakupannya bukan hanya orang-orang di sekitar anda, bukan hanya orang-orang yang bergelut dalam bidang studi Islam. Umat Islam itu adalah setiap orang yang menyatakan dirinya muslim. Semua bertanggung jawab untuk memajukan umat Islam. Karena itu, lagi-lagi yang diperlukan adalah political will dari pemangku kebijakan, sinergi dan bagi-bagi tugas antar ahli dari berbagai bidang, dan kesadaran di tengah-tengah umat secara keseluruhan.

Kepada bapak dan ibu aktivis pengajian, kalau anaknya lebih tertarik belajar biologi, dibandingkan belajar nahwu, jangan dipaksa mereka untuk mondok di pesantren yang fokus nahwu. Selama mereka memahami ilmu-ilmu agama fardhu ‘ain dengan baik, dan selama mereka mengamalkan Islam dalam kehidupan mereka, itu sudah cukup, setelah itu izinkan mereka menggeluti bidang yang memang menjadi minat belajar mereka.

Sebaliknya, kalau ada anak anda yang tertarik menggeluti bidang studi Islam secara mendalam, support mereka, masukkan mereka ke sekolah dan universitas unggul dalam bidang studi Islam, antarkan mereka belajar kepada ulama yang rasikh ilmunya, sediakan mereka berbagai literatur studi Islam yang menunjang pembelajaran. Jangan khawatir dengan penghidupan mereka nantinya, meski mereka tidak jadi dokter, engineer, dan berbagai profesi mentereng lainnya.

Leave a Reply