Meniti Jalan Para Ulama - Blog Pribadi Muhammad Abduh Negara

Fikrah

Setiap Ulama Memiliki Ketergelinciran Pendapat

Oleh: Muhammad Abduh Negara

Imam Al-Baihaqi dalam “As-Sunan Al-Kubra”, kitab “Asy-Syahadat” (Juz 10, Hlm. 356-357, Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah, Libanon), meriwayatkan ucapan Imam Isma’il bin Ishaq Al-Qadhi, beliau berkata:

وما من عالم إلا وله زلة

Artinya: “Tidaklah ada seorang ulama, kecuali dia memiliki ketergelinciran pendapat.”

Pelajaran:

1. Yang dimaksud dengan ketergelinciran ulama di sini adalah, taqshir (kurang/lemahnya) mereka dalam ijtihad, sehingga hasil ijtihadnya menyelisihi dalil, tidak sesuai dengan pokok-pokok dan tujuan syariah, dan semisalnya. Silakan baca pembahasan ketergelinciran ulama di kitab “Al-Khilaf Anwa’uhu Wa Dhawabithuhu Wa Kayfiyyah At-Ta’amul Ma’ahu”, karya Hasan bin Hamid bin Maqbul Al-‘Ushaimi (Hlm. 187 dan seterusnya, Dar Ibn Al-Jauzi, Riyadh).

2. Tidak boleh mengikuti ketergelinciran ulama, apalagi mengumpulkan semuanya untuk diamalkan. Imam Isma’il Al-Qadhi, dalam riwayat di atas juga, menyambung perkataan beliau, “Siapa saja yang mengumpulkan seluruh ketergelinciran ulama kemudian mengambilnya, agamanya telah pergi (hilang).”

Imam Al-Auza’i, sebagaimana disebutkan juga oleh Al-Baihaqi (Hlm. 356), menyatakan:

من أخذ بنوادر العلماء خرج من الإسلام

Artinya: “Siapa saja yang mengambil setiap pendapat ganjil dari para ulama, dia telah keluar dari Islam.”

2. Ulama sebesar dan sealim apapun, tidak ma’shum, kadang ada pendapat mereka yang ganjil, menyelisihi dalil dan tidak layak diikuti. Imam Asy-Syafi’i dalam “Ar-Risalah” (Juz 2, Hlm. 134, Dar An-Nafais, Libanon) berkata:

ولكن قد يجهل الرجل السنة فيكون له قول يخالفها، لا أنه عمد خلافها

Artinya: “Tapi kadang seseorang (ulama) tidak mengetahui Sunnah, sehingga dia menyampaikan pendapat yang menyelisihinya, bukan karena sengaja ingin menyelisihinya.”

3. Tentu, pelajaran yang kita ambil bukanlah untuk bersikap lancang pada ulama besar, apalagi para aimmah matbu’in (imam yang diikuti), menyatakan pendapat mereka yang ini dan itu menyelisihi dalil, padahal penguasaan kita terhadap dalil jauh sekali di bawah mereka, ‘baina as-sama wa as-sumur’. Atau mengatakan ‘hum rijal wa nahnu rijal’. Tidak pantas sama sekali. Yang benar ‘hum ‘ulama wa nahnu juhala’.

Pelajaran yang kita ambil adalah, tidak bersikap kultus pada ulama. Setiap mereka, mungkin benar mungkin salah. Karena itu, jangan jadikan mereka sebagai standar kebenaran. Dan pasti, jika sekelas Imam Asy-Syafi’i saja tidak boleh dijadikan standar kebenaran, apalagi syaikh fulan dan ustadz ‘allan yang menjadi rujukan di komunitas anda.

4. Mari bersikap dewasa, kebenaran bisa datang dari syaikh dan ustadz komunitas anda, bisa juga dari syaikh dan ustadz komunitas lain. Mari berpikir secara terbuka, berlapang dada dan banyak-banyak tahu diri. Ilmu tidak hanya ada pada komunitas anda.

Wallahu a’lam.

Banjarmasin, 17 Rajab 1443 H / 18 Februari 2022 M

Leave a Reply