Meniti Jalan Para Ulama - Blog Pribadi Muhammad Abduh Negara

Fiqih Hadits & Khilaf Ulama

Shalat Berjamaah Hukumnya Apa?

Oleh: Muhammad Abduh Negara

Salah satu dalil yang digunakan oleh mayoritas ulama, bahwa berjamaah dalam shalat fardhu itu tidak wajib ‘ain adalah Hadits shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلَاةَ الْفَذِّ بِخَمْسٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

Artinya: “Shalat berjamaah itu lebih utama dari shalat sendirian sebesar dua puluh lima derajat.”

Dalam riwayat lain:

بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

Artinya: “Dua puluh tujuh derajat”.

Hadits ini menurut mereka, menunjukkan bahwa shalat berjamaah itu tidak wajib, namun sekadar menunjukkan keutamaan dan kesempurnaannya dibandingkan shalat sendirian.

Jadi seakan Nabi berkata, “Shalat berjamaah itu lebih sempurna dibandingkan shalat sendirian”. Dan sempurna itu, di atas cukup. Jadi, shalat sendirian itu sudah cukup (الإجزاء), namun jika ingin sempurna, kerjakan ia secara berjamaah.

Sedangkan menurut Zhahiriyyah yang menganggap shalat berjamaah itu fardhu ‘ain, adanya pengutamaan salah satu atas yang lain, itu tidak menafikan kewajibannya.

Hadits ini, menurut mereka bisa dimaknai: “Shalat berjamaah bagi yang wajib melakukan shalat berjamaah, itu lebih utama dibandingkan shalat sendirian bagi orang yang gugur kewajiban jamaahnya.”

Dan pemaknaan semacam ini, selaras dengan perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada laki-laki buta untuk ikut shalat berjamaah, selama masih mendengar adzan, yang zhahirnya menunjukkan wajibnya shalat berjamaah.

Demikianlah, satu Hadits bisa dipahami secara berbeda oleh para ulama, sebagaimana diuraikan oleh Ibnu Rusyd sang filsuf, dalam Bidayatul Mujtahid.

Leave a Reply