Oleh: Muhammad Abduh Negara
“Sesungguhnya seluruh umat manusia itu bersaudara/bersatu. Begitulah pelajaran dari Al-Qur’an yang suci, yang menjadi dasar sosialisme. Kalau segenap umat manusia kita anggap sebagai satu persatuan, tak boleh tidak kita wajib berusaha untuk mencapai keselamatan bagi mereka semuanya.”
“Barang apa yang telah saya uraikan ini adalah saya pandang menjadi pokoknya sosialisme yang sejati, yaitu “Sosialisme cara Islam”, bukan sosialisme cara Barat.
“Menurut pendapat saya, di dalam paham sosialisme ada tiga anasir, yaitu: kemerdekaan (vrijheid liberty); persamaan (gelitkheid-equalty) dan persaudaraan (broederschap fratemity). Ketiga anasir ini dimasukkan sebanyak-banyaknya di dalam peraturan-peraturan Islam dan di dalam persatuan hidup bersama yang telah dijadikan oleh Nabi yang suci, Muhammad SAW.”
(Islam dan Sosialisme, HOS. Tjokroaminoto, Hlm. 41-42 dan 51)
Catatan M4N:
Beliau, sebagaimana sekian tokoh lainnya, menganggap ide-ide seperti demokrasi dan sosialisme, tidak bertentangan secara asas dengan Islam. Hanya saja, karena ide (atau: istilah) ini mengemuka pertama kali di Barat, ia perlu difilter atau “diislamkan”, agar bebas dari unsur-unsur yang bertentangan dengan prinsip dan ajaran Islam.


Leave a Reply