Meniti Jalan Para Ulama - Blog Pribadi Muhammad Abduh Negara

Fikrah

Bagaimana Jika Sang Hafizh Itu Berkulit Hitam?

Oleh: Muhammad Abduh Negara

Terjatuh pada kemaksiatan, jelas sebuah kesalahan. Tidak untuk dibanggakan. Namun, siapakah sosok tidak ma’shum yang bisa lepas dari kemaksiatan?? Karena itu, mengklaim diri suci tak berdosa adalah sebuah kesalahan fatal. Demikian pula, menyangka ada orang (selain para Nabi dan Rasul) yang tidak pernah melakukan perbuatan dosa, juga kekeliruan.

Tak ada muslim -seistiqamah apapun dia- yang bebas dari kesalahan dan dosa.

Namun, seharusnya kita berusaha menghindar dari menampak-nampakkan perbuatan dosa itu. Pendosa yang mengumbar perbuatan dosanya di khalayak ramai, berbeda dengan pendosa yang masih punya urat malu.

Lebih parah lagi adalah, jika seseorang tak merasa suatu kemaksiatan sebagai kesalahan dan perbuatan dosa. Ia menganggap pelanggaran itu bukan perbuatan dosa, hingga tak perlu disesali. Mengapa bisa seperti ini? Biasanya karena minim ilmu tentang halal-haram, minim ilmu tentang batasan-batasan syariah.

Seandainya pun tak sampai haram, masih ada makruh tahrim (istilah yang menunjukkan sangaaaat makruh dalam madzhab Syafi’i) atau makruh tanzih. Atau, jika ada ketidakjelasan hukum di hadapannya, jatuhnya pada syubhat yang sebaiknya juga dihindari. Ketidakpahaman atau ketidaktahuan akan hal-hal semacam ini, bisa menyebabkan seseorang menganggap suatu yang tidak baik, sebagai sesuatu yang baik-baik saja, tak ada masalah.

***

Seandainya seorang ukhti begitu terkagum-kagum dengan ketampanan atau kegagahan fisik, ditambah dengan nilai plus lainnya semisal hafal Al-Qur’an, suaranya merdu, de el el, lalu tak bisa menahan diri ketika melihat sosok idaman tersebut, jauh LEBIH MENDINGAN jika ia teriak histeris di kamarnya sendiri tanpa didengarkan orang lain, dibandingkan teriak histeris di hadapan banyak orang.

Adapun jika ia menganggap selfie bersama sosok tampan tersebut tak ada masalah, atau teriak-teriak histeris itu tak ada masalah, atau terkagum-kagum sambil menikmati ketampanan wajah seorang penghafal Al-Qur’an itu lumrah saja, ada baiknya proses “hijrah”-nya diperbaiki lagi.

Pada bab ini, anjuran Najwa Shihab untuk “menjilbabi hati” itu perlu diambil oleh ukhti-ukhti yang katanya sudah berhijab syar’i itu. Meskipun, saran sebaliknya juga kita anjurkan kepada Najwa Shihab, selain hati, kulit juga perlu dijilbabi.

Proses “hijrah” itu bukan sekadar mengganti idola, tapi juga mengganti cara menentukan idola dan cara mengagumi idola tersebut. Kalau kata Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ulama besar di masa shahabat yang juga menjadi cikal bakal Ahli Ra’yi di Kufah, “Kalau ingin mencari teladan, teladanilah orang yang sudah mati, karena orang-orang yang masih hidup tidaklah aman dari fitnah. Mereka (yang layak diteladani itu) adalah para Shahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam”.

Yang paling layak diidolakan dan diikuti jalannya, adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian para shahabat beliau radhiyallahu ‘anhum. Itu sebenarnya sudah cukup. Kalau masih ingin tambah, teladanilah para ulama rabbani dan pahlawan Islam di masa lampau, yang telah terbukti keteguhannya dalam iman hingga akhir hayat. Teladanilah yang sudah mati, karena mereka telah bebas dari fitnah dunia.

Jika pun harus mengidolakan orang yang masih hidup, idolakanlah para orang tua, dari kalangan ulama dan orang-orang shalih (meskipun bukan ulama), karena panjangnya umur mereka dalam ketaatan lebih menunjukkan keistiqamahan, juga lebih banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari orang-orang berpengalaman seperti mereka.

Mengidolakan yang masih muda? Saya tak berani mengharamkan. Hanya saja, jelas orang yang diidolakan tersebut belum banyak terhantam ujian, yang menunjukkan istiqamahnya dia dalam ketaatan.

Selain itu, yang muda -apalagi tampan- ini malah bisa menjadi sumber fitnah bagi wanita. Laki-laki tampan itu bisa melahirkan fitnah bagi kalangan wanita. Demikian pula, wanita cantik bisa menghadirkan fitnah bagi para pria. Solusi menghindari fitnah, jangan dekati, jauhi. Tak bisa juga, nikahi. Bukan dengan teriak-teriak histeris, pajang poster, ber-selfie ria, de el el, yang semuanya adalah manhaj-nya artis K-Pop dan fansnya.

***

Bagaimana jika sang hafizh itu seorang kakek tua, berkulit hitam, dan bertubuh gemuk, masihkah ada “pecinta qur’an” yang teriak histeris di hadapannya???

Leave a Reply