Oleh: Muhammad Abduh Negara
Imam Abu Hanifah, seorang imam yang agung, pendiri salah satu madzhab fiqih yang mu’tabar, bahkan madzhab terbesar dari sisi jumlah penganutnya saat ini. Tampaknya, tidak ada ulama maupun pelajar saat ini, yang tidak mengakui tingginya kedudukan sang imam.
Namun di masa beliau, ada sekian kritik, bahkan kritik keras pada beliau, terutama dari kalangan ulama ahli Hadits. Bagi yang pernah baca sejarah perkembangan ilmu fiqih, tentu tahu bahwa di masa itu, terjadi saling kritik cukup keras di antara dua madrasah besar saat itu, yaitu madrasah ahli Hadits dan madrasah ahli ra’yi.
Kritik kepada beliau, boleh diringkas pada tiga perkara:
1. Kritik pada sebagian isu aqidah, yang dinisbatkan pada beliau.
2. Lemahnya beliau dalam ilmu Hadits, menurut standar para ulama Hadits saat itu.
3. Penolakan beliau terhadap sekian Hadits ahad, dan memilih mengunggulkan qiyas dibandingkan Hadits ahad.
Salah satu contoh yang bisa diberikan misalnya, pernyataan Imam ‘Abdullah bin Al-Mubarak, “Abu Hanifah itu miskin dalam Hadits”.
Banyak contoh pernyataan lain dari kalangan ahli Hadits, yang lebih keras dari contoh di atas.
Kritik para ulama Hadits di masa itu, pada beliau, perlu dilihat oleh orang-orang di zaman sekarang, sebagai bukti bahwa tidak ada ulama yang luput dari kritikan, sebesar apapun kedudukannya, seluas apapun ilmunya. Dan bahwa setiap ulama, punya kedalaman ilmu di bidang tertentu, dan punya kekurangan di bidang lainnya.
Pelajaran lain, yang juga bisa diambil adalah, kadang perbedaan afiliasi dan madrasah keilmuan, membuat pertikaian antar ulama dan pelajar menjadi sengit, dan kadang menghilangkan sikap inshaf, bahkan meniadakan tatsabbut dalam informasi. Seperti yang terjadi pada Abu Hanifah, yang diketahui bahwa sebagian tuduhan pada beliau, pada isu-isu aqidah, ternyata tidak benar.
Wallahu a’lam.

Leave a Reply