Oleh: Muhammad Abduh Negara
Ada perempuan muda yang baru “hijrah” dari kehidupan lamanya yang sangat gaul dan hampir tak kenal batas. Ia sekarang sudah belajar menutup auratnya dengan memakai kerudung yang menutupi rambut dan lehernya, memakai celana panjang yang kadang masih cukup ketat, masih suka selfi-an dengan menampakkan wajahnya yang membuat laki-laki terfitnah, masih suka kongkow bareng dengan teman-temannya yang bercampur laki-laki dan perempuan, sekaligus sudah menggandrungi kajian-kajian Islam, terutama kajian-kajian ala anak muda.
Cerita di atas cerita fiksi, namun banyak kemiripannya di dunia nyata.
Pertanyaannya, bagaimana kita menyikapi keadaannya seperti itu? Di satu sisi, ia masih jauh dari cara berpakaian dan bergaul yang Islami. Namun di sisi lain, keadaannya saat ini sudah jauh lebih baik dari keadaannya sebelumnya.
Ada dua sikap yang perlu kita tunjukkan pada kondisi seperti ini. Dan harus keduanya. Jika salah satu saja, dan menafikan sikap yang lain, maka kita akan terjatuh pada kesalahan.
Sikap pertama: Memberikan apresiasi dan dukungan atas perubahannya sekarang, dari kondisinya yang buruk di masa lalu, menjadi lebih baik saat ini.
Sikap kedua: Menjelaskan bahwa keadaannya sekarang belum ideal, dan ia harus terus berproses menjadi lebih baik dan lebih sesuai tuntunan Syariah.
Jika sikap pertama saja yang diambil, dan menafikan sikap kedua, dikhawatirkan yang terwujud malah sikap merasa puas dengan keadaannya saat ini, dan ia sudah mengangggap kondisinya sudah baik dan ideal, dan tak perlu ada yang diubah lagi. Sekaligus, bisa jadi ia akan bersikap defensif terhadap orang-orang yang mengkritik ekspresi keberislamannya yang masih jauh dari kondisi ideal.
Sebaliknya, jika sikap kedua yang diambil, dengan menafikan sikap pertama, maka bisa jadi itu membuatnya putus asa, tersinggung, merasa perjuangan beratnya selama ini tak dianggap sama sekali, dan dikhawatirkan berujung, ia kembali ke kehidupan masa lalunya yang jauh lebih buruk.
Sikap yang benar tentu, kita memberikan apresiasi atas perjuangan berat yang telah ia lakukan. Anak gaul (bahkan hampir tanpa batas) berubah menjadi sedikit tertutup, bukan hal mudah. Ia harus mengalahkan sikap egoisnya, kekhawatirannya dijauhi orang-orang dekat, dicibir, dan semisalnya.
Apresiasi sewajarnya dan datang dari hati serta ilmu yang benar. Bahwa, berubahnya seseorang menjadi lebih baik, meski belum ideal, adalah kebaikan, sehingga perlu diapresiasi, bukan malah dimusuhi dan dicaci.
Sekaligus, kita berusaha bertanggung jawab, mengingatkannya bahwa proses yang ia lalui masih panjang. Setelah “hijrah” ia perlu belajar agama secara lebih serius. Ia harus mengubah dan/atau memperbaiki cara berpakaiannya, sikapnya, pergaulannya dengan lawan jenis, cara pandangnya terhadap dunia, dan hal-hal penting lainnya.
Da’i yang benar-benar berdakwah ilallah, tentu tidak hanya mencukupkan diri dengan ceramah, apalagi jika ceramahnya tak benar-benar karena Allah, tapi karena amplop. Sang da’i (atau da’iyah) harus membersamainya, membimbingnya untuk terus menjadi lebih baik, mengajarinya agama lebih dalam, dan jika sang da’i tidak mampu, maka ia mengarahkannya ke orang ‘alim yang memiliki kapasitas keilmuan yang diperlukan.
Wallahu a’lam.

Leave a Reply