Oleh: Muhammad Abduh Negara
Orang-orang rahayu, liberal, dan gerombolannya itu, sebenarnya tak terlalu peduli perkembangan sains dan teknologi di negeri kita. Yang ingin mereka serang adalah ajaran Islam.
Karena itu, anda tidak akan menemukan mereka bernarasi, “Orang Barat sudah sampai ke bulan dan melakukan eksplorasi di mars, tapi anda malah sibuk nyiram kembang tujuh rupa, sibuk mengumpulkan tanah keramat dalam kendi, sibuk ritual di gunung, dll.” Meskipun hal ini sangat tidak ilmiah, tunduk pada setan, dan jauh dari perkembangan sains dan teknologi, itu tidak masalah bagi mereka, yang penting bukan Islam.
Kalau anda rajin baca kitab kuning, tekun menghafal Al-Qur’an dan Hadits Nabi, semangat berpakaian Islami, tak mau ikut nalar liberal, dan semisalnya, baru mereka akan membenturkan hal itu dengan perkembangan sains dan teknologi. Padahal dua perkara ini bukan sesuatu yang tanaqudh (bertentangan).
Perempuan muslimah yang berjilbab lebar, tetap bisa jadi dokter spesialis atau peneliti. Yang pandai baca kitab kuning, tidak akan melarang anaknya yang ingin menjadi saintis atau penemu. Bahkan di beberapa abad pertama umat Islam, lahir banyak mujtahid, mufassir, muhaddits, dan pakar ilmu keislaman lainnya, sekaligus umat ini juga menjadi pionir dalam sains dan teknologi.
Saat ini, umat Islam mundur, bukan karena mereka menghafal Al-Qur’an atau sibuk mengkaji Fathul Mu’in. Mereka mundur karena banyak faktor, di antaranya masuknya pemikiran di luar Islam ke tubuh umat Islam, kekalahan di berbagai medan perang karena melemahnya ruh jihad, hilangnya semangat mengkaji Islam sampai ke akar-akarnya, kolonialisasi Barat, dan lain-lain. Akarnya adalah wahn, cinta mati terhadap dunia dan membenci perpisahan dengan dunia.
Jadi kalau mereka bilang, “Orang sudah pergi ke bulan, kalian masih membahas fiqih datang bulan.” Kita sampaikan pada mereka, “Anda sendiri, pergi ke bulan juga tidak, bikin mobil listrik juga tidak, ngerti sains juga tidak, hafal Al-Qur’an juga tidak, ngerti fiqih juga tidak, tapi bicaranya seakan sudah jadi Elon Musk dan Bill Gates.” “Kalau mau kritik, kritik tuh yang suka nyiram mobil pakai kembang tujuh rupa, yang datang ke dukun untuk menang pemilu, dan yang suka ngumpulin tanah keramat.”

Leave a Reply