Meniti Jalan Para Ulama - Blog Pribadi Muhammad Abduh Negara

Fikrah

Memahami “Maratibul Idrak” (Bagian 2)

Oleh: Muhammad Abduh Negara

Melanjutkan pembahasan soal “maratibul idrak” di tulisan sebelumnya. Pembahasan ini, juga bisa digunakan dalam konteks yang lebih umum, pada setiap informasi atau pengetahuan yang sampai pada kita. Dalam konteks critical thinking atau berpikir kritis, kemampuan kita memahami dan menerapkan “maratibul idrak” akan sangat membantu kita memilah berbagai informasi yang masuk pada kita, mengolahnya dan kemudian mengambil keputusan atau tindakan berdasarkan hasil olahan informasi tersebut.

Kita tentu tidak selayaknya seperti seorang “hathibu lail”, yang menerima dan mengambil semua informasi yang didapatkan, tanpa memilahnya dengan baik, semua ditelan mentah-mentah. Orang yang seperti ini, tidak mampu dan tidak mau membedakan antara ‘ilm (kebenaran 100%) dan jahl (kekeliruan 100%), ambil saja semuanya. Semua teori dan konsep dimamah begitu saja, entah itu benar atau salah.

Kita juga tidak layak bersikap skeptis secara berlebihan, sampai-sampai konsep yang jelas benar dan bisa dibuktikan pun, ikut diragukan, tanpa bangunan argumentasi yang kokoh. Bagi orang ini, tidak ada kebenaran mutlak, semua layak diragukan dan dipertanyakan, bahkan meskipun keraguan dan pertanyaannya tidak masuk akal.

Dengan penguasaan yang baik terhadap tingkatan idrak ini, kita bisa memilah, yang derajatnya ‘ilm dari bukti-bukti yang ada, kita terima dan yakini. Yang derajatnya zhann, kita ambil dan terima, dengan tetap menyisakan kerendahan hati jika ternyata nantinya itu keliru. Yang wahm (kemungkinan besar salah), kita tinggalkan, apalagi yang pasti salah (jahl). Sedangkan yang masih 50:50 (syak), kita tawaqquf (tidak mengambil sikap) dulu, sampai ada faktor pendukung yang menguatkan salah satu informasi yang ada.

Wallahu a’lam.

Leave a Reply