Oleh: Muhammad Abduh Negara
Ada riwayat yang redaksinya:
يكونُ في أُمتي رجلٌ يقالُ له محمدُ بنُ إدريسَ أضرَّ على أمتي من إبليسَ ويكونُ في أمتي رجلٌ يقالُ له أبو حنيفةَ هو سراجُ أُمَّتي
Artinya: “Akan ada di tengah umatku, seseorang yang bernama Muhammad bin Idris (Asy-Syafi’i), dia lebih bahaya dari Iblis. Dan akan ada di tengah umatku, seseorang bernama Abu Hanifah, dia adalah pelita bagi umatku.”
Riwayat yang disepakati para ulama Hadits kepalsuannya ini, merupakan bukti nyata, sikap fanatisme buta pada kelompok sendiri, sekaligus kebencian membabi buta pada kelompok lain, bisa sangat merusak.
Orang-orang yang fanatik buta pada Imam Abu Hanifah ini, sampai berani membuat Hadits palsu demi membela imamnya, dan menyerang ulama lain yang dianggap menyaingi imamnya. Padahal sengaja membuat Hadits palsu, diancam dengan neraka, melalui Hadits mutawatir yang tidak diragukan lagi kebenarannya.
Dan sikap fanatisme buta ini, akan selalu kita temukan, baik di masa lalu maupun di masa sekarang. Mereka tak mempan burhan, bayyinah, dalil dan hujjah. Semua itu, jika bertentangan dengan kekeruhan di kepala mereka, akan mereka tolak mentah-mentah.
Lisanul hal mereka mengatakan, “Kebenaran itu sepenuhnya ada pada kami. Dan demi membela kebenaran yang kami yakini tersebut, apapun boleh kami lakukan. Semua jadi halal bagi kami.”

Leave a Reply