Oleh: Muhammad Abduh Negara
Ada seseorang yang berkomentar di status seorang ustadz, kurang lebih isinya, “Apa dasarnya seseorang gegabah dikatakan berbicara tanpa ilmu. Tahu tidak, Syaikh Al-Albani itu tidak punya gelar Lc.”
Pernyataannya di atas, hanya menunjukkan dia yang tidak paham mengenai konsep “berbicara tanpa ilmu”. Sayangnya, mungkin karena kurang kontrol diri, dia tidak malu berkomentar seperti di atas.
Berikut ini beberapa hal yang perlu dipahami:
1. Berbicara tanpa ilmu, itu standarnya bukan gelar atau status sosial, tapi ilmu itu sendiri. Contoh, kalau ada doktor syariah yang bilang, “Kumpul kebo itu bukan zina, tapi milkul yamin”, perkataannya itu perkataan batil tanpa ilmu, karena menyelisihi konsep dasar tentang zina yang disepakati ulama.
Kalau ada profesor kampus Islam berkata, “Syariah Islam itu tidak relevan lagi diterapkan dalam kehidupan sosial politik ekonomi di zaman sekarang”, pernyataannya ini munkar tanpa ilmu, karena menafikan kelayakan Syariah Islam untuk setiap zaman.
Lalu bagaimana kita tahu “standar ilmu” itu? Ya, dengan belajar ilmu. Karena itu, kalau mau tahu, ya banyak belajar, bukan banyak komentar !!!
2. Pengajaran ilmu syar’i, tidak hanya bisa didapatkan melalui kampus formal, yang memberikan gelar. Ia bisa didapatkan di pesantren, ma’had, zawiyah, dayah, surau, langgar, ruwaq, ngaji duduk di rumah guru, dan lain-lain.
Ada sekian contoh kasus, alumni pesantren tradisional tanpa gelar formal yang jauh lebih menguasai ilmu nahwu dibandingkan alumni kampus timur tengah.
Apalagi jika membandingkan kemampuan baca kitab Arab, antara alumni pesantren tradisional dengan alumni kampus Islam Indonesia, tampak jomplang sekali.
3. Penguasaan ilmu syar’i, selain didapatkan melalui belajar dengan guru (dengan wasilah apapun), juga harus didukung kemampuan membaca, menelaah dan meneliti yang kuat. Karena itu, kadang kita temukan, orang yang masa belajarnya lebih singkat bisa lebih berilmu dibandingkan dengan yang masa belajarnya lebih lama. Mengapa? Karena dia tidak cuma duduk menyimak, tapi juga membaca, meneliti, menelaah, membandingkan, menyimpulkan, dan seterusnya.
Al-Albani mencapai apa yang bisa kita lihat saat ini, dengan menghabiskan waktu bertahun-tahun menelaah manuskrip kitab-kitab Hadits, dari pagi sampai malam, di perpustakaan. Ini bukan hal mudah dan bisa dilakukan siapa pun.
Apa yang dilakukan Al-Albani ini, bahkan lebih tinggi nilai ilmiahnya, dibandingkan yang dilakukan kebanyakan Lc., M.A., atau Dr. ilmu Hadits alumni timur tengah.
Jadi, siapa yang menjadikan gelar Lc., atau semisalnya sebagai standar berilmu atau tidak?

Leave a Reply