Oleh: Muhammad Abduh Negara
Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ Fatawa-nya, sebagaimana dinukil tim islamqa (soal: 14007), menyatakan ada tiga pandangan terhadap Yazid bin Mu’awiyah, dua di antaranya batil, dan satunya benar, yaitu:
1. Yazid adalah orang kafir dan munafik, dan sengaja membunuh cucu Rasulullah karena dendam dan kebenciannya kepada Rasulullah.
2. Yazid adalah orang shalih dan pemimpin yang adil, serta salah satu shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam.
Dua pandangan ini adalah pandangan batil, menurut Ibnu Taimiyyah.
3. Yazid adalah salah satu penguasa, sebagaimana penguasa-penguasa lainnya, memiliki kebaikan dan keburukan. Dia bukan shahabat Nabi, bukan juga kekasih Allah yang shalih. Kematian Husain terjadi di masanya dan kebijakannya menjadi salah satu penyebabnya. Namun, dia tidak kafir.
Ini adalah pendapat yang benar dan pendapat umumnya para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah, menurut Ibnu Taimiyyah. Beliau juga menukil pernyataan Imam Ahmad kepada anaknya: وهل يحب يزيد أحدٌ يؤمن بالله واليوم الآخر (Apakah seseorang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir akan mencintai Yazid?!).
Pandangan Ibnu Taimiyyah ini saya sampaikan, karena ada sebagian orang yang saking ingin berbedanya dengan syiah, malah terkesan memuji-muji Yazid sekaligus kurang senang dengan ahlul bait. Ada yang bahkan berbangga dengan nama “Yazid” yang diasosiasikan pada Yazid bin Muawiyah, sekaligus alergi dengan nama “Husain”, padahal nama ini berasosiasi pada shahabat dan cucu kesayangan Nabi sekaligus pemimpin para pemuda di surga. Ini bukan sikap Ahlus Sunnah tapi sikap Nashibi. Di masa lalu, ada tiga kelompok dalam tema ini, dua di antaranya ghuluw (menyimpang; melampaui batas), yaitu syiah dan nashibi, dan satunya lurus dan pertengahan, yaitu Ahlus Sunnah.
Jadilah Ahlus Sunnah. Jangan jadi syiah, jangan juga jadi nashibi.

Leave a Reply