Meniti Jalan Para Ulama - Blog Pribadi Muhammad Abduh Negara

Fikrah

Tidak Toleran Terhadap Paham Berbeda

Oleh: Muhammad Abduh Negara

Kita harus akui sikap tidak toleran terhadap pengajian lain, atau pendapat pihak lain, itu hampir merata di mana-mana. Bukan hanya di Salafi atau NU, tapi juga ada di ormas Islam lainnya, juga di harakah Islam.

Terserah, mau disebut oknum, atau apalah, namun kesadaran adanya “penyakit” ini, perlu dihadirkan. Agar, kita bisa belajar Islam dengan orang-orang yang berilmu, dari afiliasi manapun. Bukan menutup diri, tidak mau belajar dari seseorang, hanya karena ia bukan dari “kelompokku”.

Sisi perkara khilafiyyah yang “tidak ditoleransi” ini berbeda-beda antar kelompok. Kalangan Salafi misalnya, saat ini mungkin sudah banyak yang bisa toleran dengan qunut shubuh. Tapi, dengan tawassul dan baca Al-Qur’an di kubur/dekat kubur, apakah bisa bertoleransi?

Kalangan tradisionalis, juga perlu ditanya, apakah bisa bersikap toleran terhadap pendapat-pendapat Ibnu Taimiyyah dan Ibnu ‘Abdil Wahhab?

Para “pendukung Khilafah”, apakah bisa menerima adanya interpretasi lain terhadap sejarah runtuhnya ‘Utsmani dan lahirnya negara Saudi? Atau, apakah bisa menerima pernyataan bahwa thariqah yang dianggap oleh ‘sebagian mereka’ qath’i itu ternyata hanya ijtihad seorang Syaikh di era kontemporer, dan faktanya sampai sekarang belum diterima oleh mayoritas ulama?

Catatan:

1. Bersikap toleran itu bukan berarti menerima dan mengambil pendapat pihak lain, karena pendapat-pendapat itu sudah banyak, dan setiap orang berhak memilih pendapat yang ia anggap lebih layak diikuti.

Bersikap toleran itu maksudnya, menghargai pendapat pihak lain tentang satu persoalan, tidak menganggapnya kemungkaran yang harus dibasmi. Sekaligus menyadari, bahwa dalam persoalan ijtihad, masih ada ‘celah’, kemungkinan pendapat yang diikutinya itu ternyata keliru.

2. Tulisan ini bukan untuk membentur-benturkan dan memupuk permusuhan. Bukan itu.

Saya akui, setiap kelompok Islam itu punya kontribusi kebaikan bagi Islam dan kaum muslimin. Kebaikan-kebaikan mereka tidak boleh diingkari, tapi harus diapresiasi.

Yang kita inginkan malah, mereka yang masing-masing sudah melakukan kebaikan ini, tidak merusak diri mereka sendiri dengan klaim kebenaran mutlak, dan tidak mau bersikap toleran terhadap kelompok yang lain.

Leave a Reply