Meniti Jalan Para Ulama - Blog Pribadi Muhammad Abduh Negara

Fikrah

Ushul Madzhab Imam Asy-Syafi’i

Oleh: Muhammad Abduh Negara

Dr. ‘Umar Sulaiman al-Asyqar رحمه الله meringkas ushul madzhab al-Imam Nashir as-Sunnah Muhammad bin Idris asy-Syafi’i رضي الله عنه, yang beliau simpulkan dari “al-Umm” dan beberapa referensi lainnya, sebagai berikut:

1. Imam asy-Syafi’i mendahulukan al-Qur’an dan as-Sunnah dari dalil-dalil lainnya, dan tidak merujuk pada selain al-Qur’an dan as-Sunnah ketika dalil yang dicari ada pada keduanya.

2. Beliau mengambil zhahir dari al-Qur’an dan as-Sunnah, dan tidak beralih dari zhahir tersebut, kecuali ada dalil yang menunjukkan bahwa yang ditunjukkan oleh nash tersebut bukanlah zhahirnya.

3. Beliau berhujjah dengan khabar wahid, selama diriwayatkan oleh rawi yang tsiqah. Beliau tidak mensyaratkan bahwa khabar wahid tersebut harus masyhur pada perkara yang seharusnya diketahui oleh banyak orang, seperti yang disyaratkan oleh Hanafiyyah. Beliau juga tidak mensyaratkan khabar wahid tersebut harus sesuai dengan amal penduduk Madinah, seperti syarat dari Imam Malik. Beliau hanya mensyaratkan sahnya sanad saja.

4. Beliau tidak menerima secara mutlak Hadits mursal, seperti yang dilakukan oleh Imam Abu Hanifah dan Imam Malik. Beliau hanya menerima Hadits mursal jika didukung oleh dalil lain, semisal rawi dari Hadits mursal tersebut hanya meriwayatkan Hadits-Haditsnya dari gurunya yang tsiqah. Karena itulah, beliau menerima mursal Imam Sa’id bin al-Musayyib, yang telah memenuhi syarat ini.

5. Ijma’ yang menjadi hujjah bagi asy-Syafi’i, bukanlah ijma’ yang populer disebutkan di kitab-kitab ushul fiqih, tapi hanya pada perkara-perkara yang seorang muslim tidak boleh tidak tahu tentangnya, seperti kewajiban shalat lima waktu, kewajiban zakat, dan semisalnya.

6. Adapun penukilan pendapat ulama melalui jalur ahad, yang tidak diketahui ada pendapat lain yang menyelisihinya, bagi asy-Syafi’i ini tidak boleh disebut ijma’, karena ketidaktahuan atas sesuatu bukanlah dalil. Bisa jadi, ulama berbeda pendapat, tapi kita tidak mengetahuinya.

7. Beliau mendahulukan qaul shahabi atas qiyas. Jika seorang shahabat berpendapat dan tidak ada shahabat lain yang diketahui menyelisihinya, beliau mengambil pendapat tersebut. Jika para shahabat berselisih pendapat, beliau memilih salah satu pendapat tersebut. Beliau pernah berkata, “Berdasarkan qiyas, seharusnya rahib juga dibunuh (sebagaimana orang kafir lainnya), seandainya tidak ada riwayat dari Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu (yang tidak membunuhnya).”

8. Asy-Syafi’i hanya mengamalkan qiyas dalam kondisi dharurat, layaknya bangkai yang hanya dimakan ketika seseorang kelaparan dan hampir mati. Beliau hanya menggunakan qiyas, ketika tidak menemukan ada nash (al-Qur’an dan as-Sunnah) serta atsar shahabat yang membahas persoalan tersebut.

9. Beliau tidak menerima istihsan, mashalih mursalah dan amal penduduk Madinah sebagai dalil

(Al-Madkhal ila asy-Syari’ah wa al-Fiqh al-Islami, Dr. ‘Umar Sulaiman al-Asyqar)

Catatan M4N:

Untuk qaul shahabi, panjang perdebatan di kalangan ulama, apakah Imam asy-Syafi’i menjadikannya hujjah atau tidak. Wallahu a’lam.

Leave a Reply